Berpikir Kritis : Langkah Menyingkap Tabir Realitas

Keterampilan Era Modernisasi secara umum didefinisikan sebagai seperangkat keleluasaan terhadap akses Ilmu Pengetahuan, Kemampuan Berpikir serta Karakteristik yang melekat dari Tiap Individu. Ketiga aspek ini merupakan bagian dari Esensi Dasar Manusia yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Aspek – aspek ini kemudian di landasi dari kemampuan Individu untuk Menampung segala Aspek Pengetahuan dengan Kapasitas Berpikirnya sehingga menghasilkan Output yang mengimplementasikan Tindakan ataupun Karakter. Kemampuan Berpikir inilah yang menjadi Faktor Utama dari tiap – tiap individu dalam menghadapi Perkembangan zaman.

Gambar dari Merdeka.com

Aristoteles dalam sebuah Diskursusnya menyebut Human is Animal Reason yang kemudian disebutkan Kembali oleh Pemikir Kontemporer Islam Al Ghazali dalam sebuah statementnya yakni Al Insamu Hayamun Nathiq dimana Manusia adalah hewan yang berpikir. Konsepsi ini tentu mengarahkan kepada Salah satu esensi yang membedakan antara manusia dengan ciptaan lainnya terkhusus Binatang adalah tentang bagaimana ia Berpikir. Penekanan Konsen Berpikir ini tidak lain adalah faktor dasar dari Berbagai Tindakan yang akan dilakukan oleh Individu selanjutnya, dari Pemikiran yang terukur serta kritis manusia mampu menjalani sekelumit Problematika kehidupan.

Berpikir kritis sendiri merupakan kondisi invididu untuk “Menyelami” lebih dalam tentang suatu peristiwa ataupun sesuatu hal yang berada dalam tabir tanda tanya dan berusaha untuk menguak jawaban atas realitas yang tertutupi. Dari hal ini pula Rene Descartes seorang Filsuf terkemuka abad Renaissance dalam sebuah Discoursenya menyebut Cogito Ergo Sum yakni Saya Berpikir sebab itu saya ada. Rangkaian Berpikir kritis ini sendiri dibalut dengan rajutan sistematis dengan melakukan Pengenalan Problematika, analisis, sintesis, konsen pemecahan problematic, hingga mengevaluasi atas serpihan serpihan Penalaran yang ada dalam rangkaian ini.

Adhitya Rahardhian dalam jurnalnya Kajian Kemampuan Berpikir Kritis dari Sudut Pandang Filsafat menyebut Berpikir kritis sebagai salah satu Kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dibutuhkan dalam pengembangan keterampilan abad ke – 21. Ia menjabarkan bahwa Berpikir Kritis dapat dibentuk dengan cara mengkombinasikan beberapa unsur seperti Keingintahuan, Kerendahan Hati, Skeptisisme, Rasionalitas, Kretivitas, serta Empati. Aspek aspek ini kemudian dipadukan dengan rentetan yang sistematis dengan berbagai sumber rujukan pengetahuan.

Gambar dari Tirto

Berpikir kritis atau sebuah sikap Kritis merupakan Faktor baik yang diperlukan dari tiap individu, khususnya bagi individu yang berada dalam lingkup Akademis. Kritis menandakan adanya upaya Berpikir yang tajam akan sesuatu hal yang menjadi sebuah stimulus bagi Logika Berpikir. Berpikir Kritis juga mampu memisahkan Segragasi Sosial yang biasanya dilandasi adanya identifikasi dari kelas sosial masyarakat.

Kemampuan analitis dalam Berpikir kritis ini tentu sangat diperlukan pada Milenial yang digadang – gadang sebagai Komoditas yang mampu menyerap informasi dengan cepat akibat kemudahan akses Informasi yang ada di Era Modernisasi saat ini. Kemudahan Akses atas Ilmu Pengetahuan ini tentu harus dilandasi dengan Simulasi Kemampuan Berpikir agar tidak terbawa oleh arus informasi yang liar.

Gambar dari Shutterstock
Gambar dari NYU Youtube
Gambar dari Everypixel

Namun, seiring berjalannya waktu. Kemampuan Berpikir Kritis justru mendapat perhatian kuat dan juga bahkan penekanan dari berbagai pihak. Kemampuan dari Berpikir kritis yang mampu menguak Realitas dari dalam tabir ini justru menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi pihak – pihak Praktisi Filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung menyebut konsepsi dari Berpikir Kritis adalah bercakap dalam ruang dialogis yang terbuka terhadap kritik. Terlebih, ia menyebut bahwa terdapat Penekanan atau Konsepsi yang membuat tabu akan Pemikiran yang kritis. “Ironisnya, hari hari ini orang mengidap resistensi terhadap kritik.” Ujarnya seperti dilansir dalam jurnalperempuan.org (05/12/2017). Resistensi ini tentu dihasilkan akibat faktor faktor yang ingin menutup Ruang Realitas agar dapat terbuka secara luas. Faktor ini kemudian kerap menekan terkait Sikap Berpikiran Kritis dengan batas batas ataupun sekat yang kadang kala dianggap negatif, sementara sejatinya Berpikir kritis merupakan Pemanfaatan Fungsional Akal manusia dengan sebaik baiknya.

Hamdani dalam Jurnalnya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Metode Eksperimen menyebutkan Kemampuan Berpikir Kritis dapat dikatakan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi dimana ia digunakan untuk mengetahui permasalahan dan menemukan ide yang tepat untuk menyelesaikannya sesuai dengan apa yang diyakini. Hal ini tentu didasari dengan beberapa Indikator yakni Interpetasi, analisis, dan juga evaluasi. Penerapan berpikir kritis seperti ini tentu harus dijadikan konsumsi Publik. Dengan menerapkan Pola Pemikiran Kritis public tentu tidak mudah goyah ataupun tidak mudah berada dalam situasi dilematis dalam menanggapi problematika yang ada.

Dari Sudut pandang akademis, tentu Berpikir Kritis merupakan anjuran yang “Paten” untuk di fungsikan serta diterapkan, karena dengan berpikir kritis kita mampu mengetahui sesuatu hal yang mungkin tidak hanya tertutupi oleh tabir namun tersamarkan oleh beberapa kondisi yang membuat suatu peristiwa ataupun hal lain menjadi bias dari realitas. Sementara, Tugas seorang akademis adalah menyibak tabir – tabir realitas yang ada sebagai bentuk pencaharian kebenaran serta sebagai wujud pertanggung jawaban atas Ilmu yang kita miliki.

Gambar dari Boston University

Written by 

STAI Binamadani merupakan Perwujudan dari cita cita pendiri untuk memperjuangkan kesejahteraan kehidupan umat melalui perguruan tinggi yang dengan sengaja mentransfer ilmu ilmu agama, sosial, humaniora, dan eksakta.