Mengenal Fungsi Utama Masjid, Antara Esensi Dan Eksistensi

Sejalan dengan perkembangan zaman, Identitas sesuatu hal dapat semakin berkembang bersamaan dengan konteks semangat Teologi yang oleh Sebagian pihak dipandang dalam angka penurunan nyatanya semakin meningkat naik. Dalam dunia Islam sendiri, khususnya di Indonesia terdapat banyak sekali jumlah masjid yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Dilasir dalam Media Indonesia, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla juga menyebutkan bahwa setidaknya terdapat lebih dari 800 ribu jumlah masjid dan musala yang ada di Indonesia.

Masjid sendiri tercatat pertama kali dibangun ketika Rasulullah SAW hijrah ke kota Madinah dimana ia memulai tatanan Peradaban Islamiah pertama dengan Pondasi kokoh Masjid yang akan menjadi Sentral Segala Kegiatan Umat. Karim dalam bukunya “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam” juga menyebut bahwa Membangun masjid merupakan tugas pertama yang Rasulullah SAW lakukan sebelum membangun peradaban Kota Madinah. Dapat kita Analisa bahwa ia menyadari bahwa kehidupan Islam tidak dapat berkembang jika Fasilitas Peribadatan tidak ada, terlebih tidak hanya itu fungsi utama dari Masjid itu sendiri yang tidak hanya sebagai sarana peribadatan.

Sumber Gambar Media Islam
Sumber Gambar Mina News

Junaidin Basri dalam Jurnal Masjid Sebagai Pusat Pendidikann Masyarakat menyebutkan bahwa Peran dan fungsi dari masjid itu sendiri adalah Fungsi Ubudiyah (Ritual peribadatan dan spiritual), Tarbiyyah (Pendidikan dan Pengembangan), Ijtimaiyah (Sosial budaya), serta Iqtishadiyah (Sosial Ekonomi). Dari sekian banyak esensi dari Fungsi masjid ini sendiri berbanding terbalik dengan keadaan masjid saat ini yang terkadang hanya di Deskreditkan pada satu atau dua kategori saja. Masjid terkadang hanya di pandang sebagai sarana peribadatan Formil sementara fungsi lainnya tidak dilaksanakan atau kurang dikembangkan.

Founder Masjid Enterprise, Beni Sulastiyo dilansir dalam laman bpkh.go.id menyebutkan bahwa masjid saat ini hanya menjalankan Sebagian kecil saja dari Esensi utamanya “Saat ini hanya Sebagian kecil menjalankan perannya untuk berbagai hal. Sekarang universitas yang melahirkan masjid bukan sebaliknya.” Ungkapnya (6/9). Esensi ini sendiri tentu mengacu pada Sebagian aspek saja yang kemudian diterapkan dalam kerangka utama dari esensi masjid itu sendiri. Kita seyogyanya saat ini hanya mampu melihat perspektif Masjid hanya erat dalam Pandangan Teologis Keagamaan, sementara Fungsi lainnya hanya terlihat dalam Sebagian kecil faktor Pengembangan Pendidikan dimana hanya melalui Kajian Keislaman semata. Faktor faktor seperti Pemanfaatan Ekonomi secara menyeluruh

Disisi yang sama, Faktor ekonomi juga merupakan hal yang penting dalam membangun peradaban, itulah sebabnya Esensi utama Masjid mengakomodir hal ini. Bahtiar Effendi dalam Jurnalnya berjudul Optimalisasi Fungsi Masjid sebagai Sarana Dakwah dan Pemberdayaan Ekonomi Umat menyebutkan dalam penelitiannya dengan sampling malah satu masjid di daerah Jawa Tengah. Menyebutkan adanya faktor yang keterkaitan antara Jumlah Wiraswasta yang meningkat seiring dengan berjalannya aktifitas dakwah Islamiyah di Masjid Assalam Daerah Rowosari. Ini menandakan Aktivitas yang ada di Lingkungan Masjid sangat mempengaruhi kegiatan perekonomian pada lingkup masyarakat. Sangat disayangkan jika Kegiatan Sosial Ekonomi ini tidak di akomodir oleh masjid sebagai sentralistik Keumatan dan mampu memperkuat Ekonomi Keumatan jika memang serius di lakukan.

Sumber Gambar Media Dakwah

Dari sisi Sosial, esensi masjid juga tidak sepenuhnya berjalan dengan sepenuhnya. Abdurrahman An Nahlawi dalam bukunya Prinsip – prinsip dan Metode Pendidikan Islam menyebutkan Masjid pada zaman nabi menjadi pusat kegiatan untuk membina masyarakat demi terciptanya persatuan dan kesatuan dalam kesatuan sosial dan politik. Lebih lanjutnya ia juga menjelaskan peristiwa ini ditandai dengan adanya penyatuan dari dua kaum yang berbeda antara anshor dan muhajirin yang disatukan dalam aktivitas politis yang dilangsungkan dalam naungan masjid. Hal ini tentu menjadi Kontradiksi ketika masjid menjadi sangat terisolasi dari kegiatan Politis karena sejatinya ini juga bagian dari Esensi Masjid untuk mengakomodir Hal – hal yang bersifat Politis menjadi satu kesatuan sesuai dengan falsafah islam.

Dari berbagai aspek yang dilihat, tentu kita dapat mengenalisa bahwa ada sesuatu hal yang seakan mengerucutkan peranan masjid bahkan di Era Modernisasi saat ini. Padahal sejatinya, Modernisasi justru mempermudah atau bahkan melakukan inovasi yang baru dan bukan malah memundurkan sesuatu hal. Peranan Masjid yang seharusnya mengikuti Esensi utamanya justru seakan hanya menjadi Point Eksistensi untuk menunjukan Keberadaan dari Komoditas Muslim itu sendiri. Padahal sewajarnya Masjid haruslah didasari melalui Falsafah pendiriannya, yang mana kita sangat dan teramat Nampak untuk dapat mengambil contoh dari Perjalanan Rasulullah SAW dalam membangun serta mengembangkan masjid hingga menjadi pusat Peradaban yang mengakomodir segala aspek kegiatann yang bersifat kemaslahatan umat yang bersifat visioner.

Written by 

STAI Binamadani merupakan Perwujudan dari cita cita pendiri untuk memperjuangkan kesejahteraan kehidupan umat melalui perguruan tinggi yang dengan sengaja mentransfer ilmu ilmu agama, sosial, humaniora, dan eksakta.